Satu kali peringatan dari sekolah ternyata belum juga membuat anak saya yang paling bontot, saat ini masih duduk di kelas TK nol besar, menjadi jera.
Pulang dari sekolah pukul 4 sore, anak bungsu saya berlari sambil mewek alias menangis. Ketika ditanya ”mengapa menangis?” oleh ibu-nya, dia mengatakan bahwa behavior card untuk hari itu memperoleh warna kuning. [Sekolah mengeluarkan laporan siswa setiap hari tentang behavior siswa selama di sekolah melalui representative warna. Hijau berarti good, kuning artinya warning, merah indikasi dari alert, dan seterusnya].
Dengan warna kuning pada behavior card hari itu, anak bontot saya sudah kalang kabut. Dia sudah paham sekali bahwa dua jam lagi (pukul 6), ayahnya akan pulang dari kantor. Akan menjadi bencana besar bagi dirinya kalau tidak bisa menjawab pertanyaan selidik dari ayahnya. Dia berpikir keras untuk mencari argumentasi yang make sense untuk meredam amarah ayahnya yang sudah pasti pertanyaan pertamanya adalah ”How could that happen?”
Pada hari itu, pukul enam lebih sedikit saya sampai rumah. Hanya anak perempuan saya yang menyambut di depan pintu rumah. Anak saya mbarep (baca: sulung) masih belum pulang dari latihan gitar. Sementara anak saya yang bontot lari ngumpet belum keluar dari tempat persembunyiannya.
Seperti biasa, saya dan istri melakukan screening check tas sekolah dan kontan saya berteriak memanggil si bungsu setelah melihat warning dari sekolah yang isinya seperti ini, “YOUR SON WAS PLAYING IN THE BATHROOM”.
Datang dengan pelan-pelan dia mendekati saya. Sudah tahu pasti akan dimakan sama Buto (baca: raksasa pemakan manusia), sepertinya dia pasrah saja. Belum sempat saya ngomong lebih jauh, dia sudah mbrebes mili (baca: berderai air mata). Sambil terisak dia memulai gerakan defensive-nya, “My friend pulled my pants down”. Karena malu (akibat celananya di-plorot) oleh temannya, daripada balik ke kelas lebih baik mainan di kamar mandi sekolah. Begitu kurang lebih jalan logika berpikirnya. Waduh cilaka ini. Ngapain sih pakai plorot-plorotan celana segala. Memangnya nggak ada jenis mainan yang lain
.
Masih dengan penasaran saya katakan, “I will come to your school tomorrow”. Anak perempuan saya yang dari tadi diam akhirnya ikut menyela, “Well… Dad, I do not think that’s necessary. Besides, if this is really important, his teacher will let me know too since I am also in the same school.”
Ealah… belum sempat bernafas plong, baru dua hari setelah kejadian “kamar mandi” berselang, datang lagi warning dari sekolah melalui behavior card yang serupa. Sekarang isinya lebih serem lagi, “YOUR SON WAS POKING HIS FRIEND”. Aduhhhh… apalagi ini.
Jangan-jangan khotbah saya malam itu di meja makan diartikan lain oleh si bungsu
. Jangan-jangan yang di poking adalah anak yang kemarin mlorot celananya itu sambil bangga dia berkata, “Well dad, this is the right thing to do. You should proud of me now”. Jangan-jangan….
Ketika tulisan ini di-release, saya masih belum tahu pasti duduk perkaranya. Yang jelas, semenjak kejadian “poking” itu, pada setiap malam ada tambahan doa baru (versi saya tentunya
) yang perlu saya sisipkan pada lampiran doa dzikir yang isinya kurang lebih sebagai berikut, “Ya Alloh, kuatkanlah pendirian hati anak-anak kami, mudahkanlah penerangan pada hati mereka, berikanlah kekuatan kepada mereka hanya meniru tingkah laku dari orang tua-nya yang baik-baik saja, sementara polah dari orang tua-nya yang amburadul tidak meracuni kepolosan jalan berpikir mereka.” Amin. (Prahoro Nurtjahyo, Kamis, 28 Pebruari, 2008)